BUMI TERHAMPAR
BULAN, PUNYA CAHAYA SENDIRI
Sampai kapan kita akan terus terdiam terpaku dalam lingkaran kedustaan?
Ketika telah tampak kerlip cahaya kebenaran, sampai kapan kita akan terus mengabaikannya?
Ketika bulan purnama tiba, lihatlah cahayanya, dan rasakan...
Bukankah cahayanya meneduhkan hati, sejuk, dan nikmat dipandang mata...
Para Sahabat Radhiallaahu'anhum bahkan mengibaratkan wajah Rasulullaah shallallaahu'alaihi wasallaam seindah rembulan...
Kekasih Allah, Rasulullaah Shallallaahu'alaihi wasallaam pun pernah menyebutkan, bahwa ummatnya nanti akan bertemu Sang Khaliq dan dapat memandang-Nya tanpa terhalang sesuatupun, sebagaimana kita dapat memandang bulan purnama yang tak terhalang oleh awan...
Selama ini kita percaya bahwa bulan mendapatkan cahayanya dari terangnya matahari..
Sekarang..
Lihatlah.. rasakan.. bedakan..
Andaikan cahaya bulan itu benar adalah pantulan dari cahaya matahari,
bukankah cahayanya akan menyilaukan dan panas?
sadarlah...
Kita mampu berlama-lama menatap bulan, yang cahayanya tak sedikitpun menyilaukan dan tak sedikitpun menyengat kulit..
Namun kita tak mampu berlama-lama memandangi batu yang silau karena terkena cahaya mentari..
maka sadarlah...
Lihatlah permukaan air laut yang seharusnya sejuk dipandang mata, namun ketika terpantul cahaya matahari disiang hari, kita akan melihatnya dengan memicingkan mata...
Mengapa?
Ya, karena cahaya matahari menyilaukan dan panas membakar retina..
Sudah..
Tak perlu berlama-lama berpikir...
Memang kenyataannya, selama ini kita patuh di dalam mentaati turunan-turunan syaithan yang menyesatkan pemikiran...
Yang begitu mudah membuat kita membenarkan berita dusta..
Saat ini, kalau kita masih kekeuh percaya dengan berita dusta berlabel sains itu..
Dan memilih jalan pintas karena tidak mau pusing berpikir tentang mana yang benar dan mana yang salah..
Ya sudahlah...
Generasi demi generasi setelah kita akan lebih parah...
mereka akan membeo dan membebek generasi tua yang tak mau memperbaiki diri dan generasinya...
Maka, penting mengajarkan anak-anak kita untuk meneliti dan menyeleksi informasi, sebelum membenarkannya...
Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka TABAYYUNLAH (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu BAHAYA pada suatu kaum atas dasar KEBODOHAN, kemudian akhirnya kalian menjadi MENYESAL atas perlakuan kalian.
[al-Hujurât/49:6].
Wallaahulmusta'aanu
Sampai kapan kita akan terus terdiam terpaku dalam lingkaran kedustaan?
Ketika telah tampak kerlip cahaya kebenaran, sampai kapan kita akan terus mengabaikannya?
Ketika bulan purnama tiba, lihatlah cahayanya, dan rasakan...
Bukankah cahayanya meneduhkan hati, sejuk, dan nikmat dipandang mata...
Para Sahabat Radhiallaahu'anhum bahkan mengibaratkan wajah Rasulullaah shallallaahu'alaihi wasallaam seindah rembulan...
Kekasih Allah, Rasulullaah Shallallaahu'alaihi wasallaam pun pernah menyebutkan, bahwa ummatnya nanti akan bertemu Sang Khaliq dan dapat memandang-Nya tanpa terhalang sesuatupun, sebagaimana kita dapat memandang bulan purnama yang tak terhalang oleh awan...
Selama ini kita percaya bahwa bulan mendapatkan cahayanya dari terangnya matahari..
Sekarang..
Lihatlah.. rasakan.. bedakan..
Andaikan cahaya bulan itu benar adalah pantulan dari cahaya matahari,
bukankah cahayanya akan menyilaukan dan panas?
sadarlah...
Kita mampu berlama-lama menatap bulan, yang cahayanya tak sedikitpun menyilaukan dan tak sedikitpun menyengat kulit..
Namun kita tak mampu berlama-lama memandangi batu yang silau karena terkena cahaya mentari..
maka sadarlah...
Lihatlah permukaan air laut yang seharusnya sejuk dipandang mata, namun ketika terpantul cahaya matahari disiang hari, kita akan melihatnya dengan memicingkan mata...
Mengapa?
Ya, karena cahaya matahari menyilaukan dan panas membakar retina..
Sudah..
Tak perlu berlama-lama berpikir...
Memang kenyataannya, selama ini kita patuh di dalam mentaati turunan-turunan syaithan yang menyesatkan pemikiran...
Yang begitu mudah membuat kita membenarkan berita dusta..
Saat ini, kalau kita masih kekeuh percaya dengan berita dusta berlabel sains itu..
Dan memilih jalan pintas karena tidak mau pusing berpikir tentang mana yang benar dan mana yang salah..
Ya sudahlah...
Generasi demi generasi setelah kita akan lebih parah...
mereka akan membeo dan membebek generasi tua yang tak mau memperbaiki diri dan generasinya...
Maka, penting mengajarkan anak-anak kita untuk meneliti dan menyeleksi informasi, sebelum membenarkannya...
Wahai
orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian
dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu),
agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas
dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas
perlakuan kalian.
[al-Hujurât/49:6].
Sumber: https://almanhaj.or.id/3445-mengapa-mesti-tabayyun.html
[al-Hujurât/49:6].
Sumber: https://almanhaj.or.id/3445-mengapa-mesti-tabayyun.html
Wahai
orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian
dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu),
agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas
dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas
perlakuan kalian.
[al-Hujurât/49:6].
Sumber: https://almanhaj.or.id/3445-mengapa-mesti-tabayyun.html
Allaah 'azzawajalla berfirman yang artinya:[al-Hujurât/49:6].
Sumber: https://almanhaj.or.id/3445-mengapa-mesti-tabayyun.html
Wahai
orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian
dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu),
agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas
dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas
perlakuan kalian.
[al-Hujurât/49:6].
Sumber: https://almanhaj.or.id/3445-mengapa-mesti-tabayyun.html
[al-Hujurât/49:6].
Sumber: https://almanhaj.or.id/3445-mengapa-mesti-tabayyun.html
Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka TABAYYUNLAH (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu BAHAYA pada suatu kaum atas dasar KEBODOHAN, kemudian akhirnya kalian menjadi MENYESAL atas perlakuan kalian.
[al-Hujurât/49:6].
Wallaahulmusta'aanu
Comments
Post a Comment